21 Januari 2011

Berilah, Maka Kita Akan Menerimanya

8 komentar

Di akhir-akhir libur semester, aku ingat udah lama ga nge post. Pas bingung mau nge post apa, berseliweran di pikiranku tentang suatu kisah yg pernah kubaca. Dongeng yg waktu itu ditujukan untuk anak kecil, tapi sekarang anak kecil itu sudah besar. Dan kisah ini menurut si "mantan anak kecil" itu, memiliki pesan moral yg perlu diketahui semua orang. Dongeng dari majalah Bobo yg berusaha kuingat. Chekidot..........

**********
Seorang remaja, sebut saja Ucok, hidup sebatang kara di suatu desa. Tanpa ada seorang pun sanak famili, Ucok berusaha menghidupi dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang biasa, tanpa mendapatkan pendidikan, dan tidak memiliki suatu keahlian. Akhirnya ia harus bekerja serabutan hanya untuk melanjutkan kehidupan, mungkin tanpa arah dan tujuan.

Ya, begitulah Ucok. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras yg ditanak menjadi nasi. Tanpa lauk, bahkan sekedar garam sekali pun. Namun Ucok bisa mengakali kehambaran itu. Setiap kali waktu makan tiba, Ucok berjalan menuju suatu kedai nasi yg terkenal di kampung itu. Kedai ini memiliki beragam masakan yg rasanya tidak diragukan lagi. Siapa pun pasti tak kan menolak bila disuguhi dengan menu-menu mereka, terutama ikan bakar yg menjadi jagoan di kedai ini. Tentu saja, harga yg ditawarkan untuk setiap porsinya hanya dapat dipenuhi oleh golongan menengah ke atas. Ucok yg seorang miskin tentu tak memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Namun Ucok tak kehabisan akal. Dengan bermodal sebungkus nasi yg ia masak sendiri, Ucok mengambil posisi duduk tepat di samping jendela tukang masak yg sedang membakar ikan di dapur kedai itu. Ucok membuka daun pisang pembungkus nasinya. Sambil menghirup aroma sedap ikan yg sedang dibakar, ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Hanya dengan menghirup aromanya, Ucok serasa sedang mengunyah lembutnya daging ikan itu. Begitulah yg dilakukan Ucok setiap hari.

Awalnya pemilik kedai tidak peduli dengan perbuatan Ucok ini. Namun lama-kelamaan ia merasa Ucok telah mengambil keuntungan tanpa izinnya. Ia merasa Ucok sudah seharusnya membayar padanya atas kenikmatan yg dirasakan Ucok slama ini. Biar pun hanya menghirup aroma ikan, namun itu sudah memberikan kenikmatan bagi Ucok. Artinya sama saja seperti Ucok sudah memakan ikan bakar buatannya. Maka si pemilik kedai menuntut Ucok untuk membayar segala kenikmatan yg sudah didapatnya selama ini. Ucok yg merasa tidak pernah merugikan pemilik kedai pun tidak mau membayar. Apa lagi Ucok memang tidak memiliki uang untuk membayarnya.

Pemilik kedai tidak mau terima. Ia pun melaporkan hal ini pada Raja yg berkuasa. Ia meminta Raja untuk menghukum Ucok dan memaksanya agar mau membayar. Raja yg bijak tak mau hanya mendengar dari satu pihak saja. Ia memanggil Ucok untuk menghadapnya dan meminta Ucok menceritakan apa yg terjadi. Dengan jujur, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, Ucok menjelaskan pada Raja kronologi kejadian. Raja mencoba memahami masalah yg dihadapi rakyatnya dan berusaha mencarikan solusi yg seadil-adilnya.

Esok harinya, Raja memanggil Ucok, pemilik kedai, dan para rakyatnya untuk berkumpul menyaksikan penyelesaian masalah ini. Dihadapan mereka, Raja telah menyiapkan sekantung koin emas. Pemilik kedai sangat girang melihat koin itu. Ia yakin kasus ini akan ia menangkan.

"Wahai rakyatku, saudara kita ini sedang mengalami perselisihan. Maka dari itu, hari ini Aku sebagai Raja kalian akan menyelesaikan masalah ini."

"Pemilik kedai, Kau menuntut Ucok untuk membayar aroma ikan bakar mu yg selama ini telah dihirupnya. Bukan begitu?" tanya Raja.

"Benar Yang Mulia..." jawab pemilik kedai.

"Dan Ucok, Kau mengakui hal itu?" tanya Raja.

"Benar Yang Mulia..." jawab Ucok.

"Baiklah. Untuk itu, Aku sudah menyediakan sekantung koin emas untuk membayar utang Ucok pada pemilik kedai. Pemilik kedai, terimalah pembayaran ini..."

Lalu Raja menggoyangkan kantung tersebut dan menumpahkan isinya. Mata pemilik kedai langsung bersinar ceria. Ketika pemilik kedai ingin mengumpulkan koin tersebut, Raja mencegahnya.

"Tidak. Kau tidak boleh mengembil koin itu. Itu bukan hak mu. Kau telah mendapat pembayarannya tadi."

"Apa maksud Yang Mulia?" tanya pemilik kedai dengan sangat bingung.

"Selama ini Ucok hanya menghirup aroma sedap dari ikan bakarmu, Ia tidak pernah mencicipinya sedikit pun. Maka dari itu, Kau pun hanya berhak mendengarkan gemerincing koin itu tanpa boleh mendapatkannya"

**********
Itu lah kisah yg pernah kubaca. Apakah salah jika kita bisa bermanfaat bagi orang lain? Tentu TIDAK! Justru kita harus bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain, agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia. Jangan pernah takut untuk memberi. Karena dengan memberi kita akan semakin bersyukur dengan nikmat yg telah kita dapatkan, dan InsyaAllah Allah malah akan menambah kenikmatan itu. Jadi jangan pernah takut merasa kurang. Kalo kita memberi tanggung-tanggung, maka yg kita dapatkan juga tanggung-tanggung, kayak si pemilik kedai tadi.

Satu lagi, jadilah pemimpin yg adil dan bijaksana. Pemimpin yg dapat mengayomi, mendengarkan masalah, membantu, dan bertindak untuk umat. Pemimpin yg seperti ini pasti dicintai rakyat dan akan didoakan kebaikannya.

-Sartika Ika S-



8 komentar:

rida s surbakti mengatakan...

ceritanya ringan tapi sarat akan makna! bener bgt sa, satu yg terfikir dlm benak rida, rida pngen sprti raja trsbt, yg arif dlm mnentukan hukuman. smpai skrg rd msh mrasa sgt jauh dr pmimpin yg baik :D
insy Allah terus belajar

Sartika Ika mengatakan...

yoi...
cerita yg nongol dimajalah anak kecil, tapi maknanya ga kenal usia.
iya, sama2 belajar ukh
:D

Inspirasi Kecilku mengatakan...

yup, bersedekahlah!
sedekah itu Mengundang rezeki. Setiap pagi malaikat berdoa, “Ya Allah berikan ganti kepada orang yang berinfak.“ Rasul bersabda “Undanglah rezeki kalian dengan bersedekah.“ Nabi memberi nasehat kepada Bilal, salah seorang sahabat yang tergolong miskin. “Nafkahkanlah, wahai Bilal, dan jangan takut dikurangi oleh Penguasa Arsy“ (HR.Al Bazzar). “Nafkahkanlah, maka Allah memberi nafkah kepadamu“ (HR.Thabrani). Juga dalam hadis lain Rasul menerangkan, “Sedekah tidak mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan ampunan, melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang bertawadhu karena Allah, melainkan Dia meninggikan derajatnya“ (HR.Muslim).

Sartika Ika mengatakan...

Subhanallah, sedekah memang ga akan merugikan manusia sedikit pun bila dilakukan dgn ikhlas.
nice comment :D

Ummi Ubay mengatakan...

yappp
Allah akan melipat gandakan apa yang kita berikan untuk orang lain ^_*

Farhan Luthfi mengatakan...

subhanallah
jarang saya baca cerita hamba seorang raja bernama ucok, kak

Sartika Ika mengatakan...

farhan, ga aci ngejek lah.... kalo ga kakak yg publish si ucok, ga terkenal2 dia nanti :p

Anonim mengatakan...

bijaksana banget rajanya..
thumbs up buat ceritanya
:-)

Posting Komentar