26 Agustus 2010

19

3 komentar
Alhamdulillah...
Allah masih memperkenankanku untuk memperbaiki diri,
Mempersiapkan tabungan hari kemudian..

Alhamdulillah...
Di bulan Ramadhan yg suci,
Bertubi-tubi doa menghampiri,
Dipanjatkan orang-orang yg masih mengasihi
Semoga diridhoi oleh Ilahi

Semoga aku tidak menyia-nyiakan masa,
Yang masih tersisa

19 tahun di dunia
Semoga dapat mendewasakanku
Sehingga waktu tak berlalu begitu saja

-Sartika Ika S.-
Read more...

17 Agustus 2010

Perjoeangan Berlanjut

4 komentar

17 Agustus 2010... Artinya negeri kita Indonesia ini udah berumur 65 tahun. Ga beda jauh dari umur papaku. Tapi kalau papaku udah keliatan menua, kulit berkeriput, kesehatan menurun, dan rambut memutih, beda halnya dengan Indonesia. Sebagai negara seharusnya makin tua ya makin jaya. Betul apa betull...??? Nah, kalo diliat-liat Indonesia kita ini makin ke sini emang makin mantep. Banyak gedung-gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan yang lomba-lomba pengen mencakar langit, yang bayangannya menutupi rumah rakyat kecil yang sebenarnya tak pantas disebut rumah karena tak mampu melindungi penghuninya dari serangan cuaca. Kendaraan mewah pun tak pernah berhenti melanglang buana di sepanjang jalan, yang kacanya terlalu gelap untuk dapat melihat penderitaan para penghuni jalanan yang setiap hari kenyang mengonsumsi polusinya. Beragam produk asing memasuki pasar dan mendapat sambutan fantastis dari masyarakat Indonesia, jadi para pengrajin Indonesia gak perlu lagi buat produk Made in Indonesia. Wilayah Indonesia yang kaya barang tambang ini juga ga perlu repot lagi, krena banyak pihak asing yang rela menyedot semua kekayaan kita dan membiarkan penduduk sekitarnya istirahat dengan tenang karena ga bisa makan. Oia, satu yang tak boleh dilewatkan dari Indonesia saat ini adalah korupsinya. Jadi kalo orang Indonesia mau sedekah gampang kali caranya, kan banyak koruptor yang siap menampung uang rakyat. Lagian, koruptornya juga ga jarang dari wakil rakyat sendiri. Kan istilahnya dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat.


Hmmm, kalo para pahlawan liat kondisi negara yang dulu mereka perjuangkan dengan mengorbankan seluruh jiwa, raga, dan hartanya ini mereka bakal komen apa ya? Waduh, bisa-bisa seluruh warga negara Indonesia di hukum jalan jongkok, lari keliling Indonesia, atau apa saking ga becusnya ngurus negara yang satu ini.


Ya, biarpun sekarang kita bebas pake bahasa Indonesia n ngibarin bendera merah putih, tapi apa kita udah bisa dibilang merdeka? Kita masih sangat bergantung sama bangsa lain, ga berani unjuk gigi ketika dihina, apa lagi masih banyak bagian dari bangsa ini yang dikuasai pihak asing. Pulau aja masih bisa direbut sama tetangga.


Ayo. Sama-sama kita jadi GENERASI PELURUS, bukan generasi penerus kebobrokan.


Hiduplah Indonesia Raya


-Sartika Ika S.-
Read more...

11 Agustus 2010

Alhamdulillah, Berjumpa Ramadhan

1 komentar

Awalnya saya mau curhat dulu... Di tanggal 26-30 Juli, 1-3 Agustus, dan 7-8 Agustus 2010 saya diminta untuk mengikuti kegiatan Dauroh Mentor (DM) di kampus. Ya, untuk membekali dan melatih diri kalau suatu saat jadi pementor... Selain itu, saya juga diminta untuk mengikuti kegiatan Dauroh Mar'ah Sholiha (DMS) dari UKMI Ad-Dakwah USU pada 27-29 Juli 2010. Kalau yang ini acaranya pake nginap 3 hari 2 malam. Setelah konsultasi ke pihak yang "berwenang" akhirnya saya mengikuti kedua acara tersebut semampu saya. Setelah DMS usai dengan bolos di DM selama 3 hari, saya dapat kabar kalau mantan SMA saya akan mengadakan kegiatan SMSC (sejenis rihlah dan outbound) pada tanggal 2-4 Agustus 2010. Lagi-lagi saya menanyakan pada pihak yang "berwenang" untuk menentukan pilihan yang tepat. Akhirnya saya pun mengikuti acara SMSC tersebut dan bokos dari DMS 2 hari. Rasa letih belum terhapus dari tubuh, saya sudah mendapat panggilan lagi untuk menjadi instruktur pesantren kilat ramadhan di SMA saya pada 13-15 Agustus mendatang. Sementara 14 Agustus di kampus saya menjadi panitia Silaturrahim Mahasiswa Baru. Jadi saya mohon maaf sekali karena tidak memposting entri baru selama beberapa minggu ini, bahkan mungkin sampai beberapa hari ke depan. (T_T)

Kembali ke judul. Alhamdulillah, Allah masih memoerkenankan saya untuk berjumpa dengan bulan penuh rahmat, berkah, ampunan, pahala, dan berbagai nikmat yang Subhanallah; Ramadhan 1431 H. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan berburu ridho Ilahi ini. Mungkin ada saudara kita yang sudah dipanggil Allah Swt. sebelum sempat menghirup udara Ramadhan tahun ini. Jadi marilah kita manfaatkan peluang investasi besar ini untuk menanamkan modal kita sebesar-besarnya bagi kehidupan yang hakiki.

Saya mengakui masih banyak kekurangan pada diri saya. Tulisan saya mungkin masih jauh dari sempurna, bahkan tak jarang bisa menyakiti hati saudara-saudaraku di dunia maya ini. Maka dari itu, saya sangat memohon kemurahan hati semuanya utuk mau memaafkan segala kesalahan saya. Agar kita sama-sama menjalani ibadah di bulan Ramadhan ini dengan kebersihan diri dan hati. Semoga dengan begitu kita bisa lebih khusuk dan maksimal dalam beribadah, dan semoga Allah meridhoi segala amal ibadah kita.

Fastabiqul Khairat...
Read more...

22 Juli 2010

Service Mata

3 komentar

Alkisah, tadi pagi untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di lantai sebuah pusat pengobatan mata yang ada di kota Medan. Sekitar pukul 9.30 WIB tepatnya kami menyambangi klinik mata itu. Biarpun masih cukup pagi, namun area parkir sudah disesaki beragam kendaraan yang masih ngimpor. Setelah memarkirkan kendaraan, langkah kami terayun ke arah pintu masuk. Tak berbeda dengan kondisi di luar, keadaan yang kami dapati di ruang tunggu pun begitu ramai. Orang dengan beragam suku, usia, warna kulit, dan keluhan sudah berdatangan ingin "mengunjungi" para dokter. Setelah mendaftar aku segera mengambil tempat duduk yang kulihat sebelum targetku dimangsa orang. Sambil duduk menunggu giliran, aku memerhatikan para petugas di klinik tersebut. Para petugas selalu tersenyum melayani setiap pasien tanpa memandang penampilan, usia, maupun asal mereka. Setiap pertanyaan yang diajukan orang-orang awam ini dijawab semampunya. Ketika ada seorang pasien yang meminta tolong perawat untuk meneteskan obat tetes mata padanya, si perawat meladeninya sambil berbincang ringan dengan si pasien. Terkadang wajah mereka pun berubah serius kala harus mengerjakan tugas masing-masing seperti meng-input data, memeriksa berkas pasien, atau ketika melakukan pemeriksaan. Pemandangan yang cukup menyejukkan bagiku. Para pegawai bertugas dengan tanggung jawab tanpa melupakan kelembutan dan kesopanan kepada semua pasiennya tanpa terkecuali.

Meskipun cukup ramai, namun pelayanan diberikan dengan cukup cepat dan sigap. Tak sampai setengah jam menunggu, namaku pun dipanggil. Di ruang pertama yang berada di lantai 1, si petugas menanyakan keluhan yang kurasakan. Aku pun menjelaskan bahwa mataku sering tidak fokus ketika membaca atau menonton, seperti berbayang. Ia pun mendekatkan mataku pada sebuah alat dan memeriksanya. Setelah itu sebuah benda berbentuk kaca mata pantat botol (bulat-red) di pasangkan pada mata ku dan aku disuruh untuk membaca beberapa huruf yang ditampilkan di sebuah layar kecil. Setelah ia menuliskan hasilnya di berkas kesehatanku, aku pun diminta untuk menunggu sebentar di luar.

Sekitar 5 menit kemudian, aku dan beberapa pasien lain di ajak naik ke lantai 2. Di sana aku melakukan pemeriksaan dengan alat yang lain lagi. Sebuah alat yang lucu bagiku. Entah apa nama alat ini. Mataku di dekatkan pada alat ini, yang ku lihat adalah cahaya berwarna merah. Ketika si petugas merasa posisinya sudah pas, dia pun memencet tombol pada alat dan wuss.. Seperti ada angin yang ditiupkan pada mataku. Aku sempat kaget ketika proses ini berlangsung. Untungnya aku bukan penderita penyakit latah. Dari sini, tahap selanjutnya aku menemui si dokter mata yang ramah. Ia memeriksa akomodasi mataku dengan cara memerhatikan mataku saat aku mengikuti arah gerakan jari tangannya. Mataku juga sempat diperiksa dengan sebuah alat.

Aku cukup tegang mendengar hasil yang akan dilontarkan sang dokter. Aku takut kalau sampai harus memakai kaca mata karena mataku menderita gangguan yang cukup serius.

"Ini matanya gak apa-apa. Cuma kelelahan saja. Yang penting adik jangan tidur lewat dari jam 10 malam (*jadi kalo udah jam 11 malam, ga boleh tidur lagi dong sampe pagi karena udah lewat dari jam 10 ;)). Trus, jangan minum kopi, minuman bersoda, atau makan coklat (*untung semuanya aku emang gak suka..). Itu semua harus dijaga ya, kalo gak nanti bisa jadi serius... 10 hari lagi kita cek. Obatnya dihabiskan..."

Alhamdulillah, sakitnya gak serius, cuma kelelahan aja. Jadi harus lebih jaga kesehatan n pola hidup ni. Memang sehat itu mahal, tapi kalo udah sakit bakal lebih mahal lagi nyembuhinnya. Yang paling berat ni masalah tidur. Kalo udah keenakan nonton, baca, atau ol jadi sering lupa waktu. Tapi demi si bola mata, apa pun akan kulakukan. Termasuk ngurangi jam ol, biar matanya ga capek nongkrong di depan si leeppyy.

Mata memang salah satu nikmat besar yang Allah pinjamkan pada kita. Dengan mata kita dapat melihat setiap milimeter kesempurnaan ciptaan Allah. Namun, mata ini sering kali terlupakan. Sering tak diperhatikan, tak dianggap, tak disyukuri... Mungkin karena mata hanya sering digunakan untuk melihat hal-hal lain, namun tidak untuk melihat mata itu sendiri. Mata yang cukup kecil ini jadi dianggap tidak memiliki arti karena tidak disyukuri fungsi besar darinya. Padahal, tanpa mata maka yg ada hanya gelap gulita. Seindah apapun maha karya Sang Pencipta, tak kan ada indahnya bagi kita tanpa nikmat mata yang sehat. Mungkin ini teguran dari Allah untukku agar mensyukuri nikmat-nikmat Nya, termasuk nikmat mata yang dapat melihat ini. Salah satu bentuk syukur yang harus kita lakukan adalah dengan merawatnya dan memberinya "makan" dengan hal-hal baik. Melihat yang baik, membaca yang bermanfaat, menonton yang benar. Tidak hanya mata, tapi semua nikmat yang Allah pinjamkan pada kita ini harus disyukuri, dirawat, dan dimanfaatkan dengan baik agar Sang Pemilik tidak marah pada kita.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

(Q.S. Ar Rahman)
Read more...

17 Juli 2010

Beda Orang, Beda Pemikiran

8 komentar

Assalamu'alaykum...

Saat masih balita dulu, mama saya selalu membacakan buku cerita pada saya. Beliau selalu membelikan saya sebuah majalah bernama "Bobo" dan mengisahkan isinya dengan cara yang sangat menarik. Saat itu, saya selalu merasa senang tiap kali mama membacakan cerita untuk saya. Hingga duduk di bangku sekolah dasar, saya masih setia mengonsumsi cerita dan informasi yang disajikan majalah anak-anak itu. Namun, tentunya saya sudah bisa membacanya sendiri tanpa bantuan mama. Banyak kisah menarik yang saya dapatkan. Informasi yang disampaikan juga sangat edukatif. Dari majalah itulah pertama kali saya mengenal istilah deja vu, tumbuhan bernama leunca, dan sebagainya. Saya juga terdorong untuk belajar menulis surat dan mengirimnya ke kantor pos karena saya mendapat sahabat pena dari majalah tersebut.


Ada beberapa kisah atau cerpen dari majalah tersebut yang masih saya ingat sampai sekarang. Dan saya baru menyadari bahwa cerita tersebut mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna bagi kehidupan. Saya ingin berbagi salah satu cerpennya kepada para pembaca, tentunya dengan bahasa saya dan beberapa perubahan karena saya tidak ingat pasti kata-katanya. Saya lupa judulnya apa, tapi marilah kita mengambil hikmah dari cerita ini.


**********

Di sebuah desa, hiduplah seorang pedagang tua bernama Pak Amir (ngarang-red). Ia telah menjalankan usahanya selama berpuluh-puluh tahun. Ia memiliki sebuah toko yang cukup besar di desa itu. Disana ia menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat. Meskipun ia dapat dikatakan orang terkaya di desanya, namun ia tidak sombong dan tetap hidup sederhana. Ia menjalankan usahanya dengan penuh disiplin sehingga bisa menjadi sukses.


Pak Amir sudah tidak memiliki istri lagi. Sang pendamping setia telah dipanggil yang Maha Kuasa beberapa tahun yang lalu. Sekarang beliau hanya tinggal bersama kedua buah hatinya yaitu Ali dan Eko (ngarang lagi-red). Mereka selalu hidup rukun dan saling menyayangi.


Suatu hari, Pak Amir terserang sakit yang cukup parah. Ia merasa umurnya tidak panjang lagi. Ia pun mengumpulkan kedua anaknya untuk memberi pesan terakhir. Dengan penuh keharuan, Ali dan Eko duduk di samping tempat tidur ayahnya sambil mendengarkan ucapan ayahnya dengan penuh perhatian.


"Ali... Eko... Mungkin Ayah tidak hidup lama lagi. Ayah hanya ingin berpesan pada kalian, bukalah toko kalian masing-masing di tempat yang berbeda. Ketika pergi dan pulang dari toko jangan sampai kalian terkena matahari. Lalu, makanlah ikan dengan jumlah mata 1000 mata setiap harinya......"


Setelah menyampaikan pesan itu, malaikat maut pun menjemput Pak Amir. Setelah menyelesaikan segala urusan yang menyangkut beliau, Ali dan Eko pun segera menjalankan pesan ayahnya. Dengan bermodal harta peninggalan sang ayah, keduanya mulai membuka toko masing-masing yang terletak berjauhan.

Berdasarkan pesan ayahnya, Ali pun membeli sebuah kereta kencana yang akan membawanya setiap hari dari rumah ke toko dan sebaliknya, sehingga ia tidak terkena matahari yang cukup panas saat berangkat maupun pulang. Ia juga membeli 500 ekor ikan bawal setiap hari untuk dikonsumsi. Kebiasaannya ini membuat pengeluarannya lebih besar dari pemasukannya. Usahanya yang dirintisnya juga tidak begitu maju.

Berbeda dengan Ali, Eko menjalankan pesan terakhir ayahnya dengan cara membuka tokonya di waktu pagi buta saat matahari belum menunjukkan sinarnya. Dengan begitu masyarakat yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari akan datang ke tokonya karena jam segitu belum ada toko lain yang tutup. Ia menutup tokonya saat matahari sedah terbenam sehingga waktu buka tokonya lebih lama daripada toko lain. Dengan demikian ia tidak pernah terkena matahari saat membuka atau menutup tokonya. Eko sehari-harinya mengonsumsi ika teri yang biarpun banyak, namun harganya tetap murah sehingga tercapailah setiap harinya ia memakan ikan dengan jumlah mata 1000 buah. Berkat kesederhanaan, disiplin, dan kerja kerasnya maka usaha yang dirintis Eko maju pesat meninggalkan usaha Ali.

**********

Dari cerita di atas dapat kita lihat bahwa sebuah pernyataan yang sama yang disampaikan pada 2 orang yang berbeda dapat memiliki arti yang berbeda pula. Ali mungkin akan berpikir bahwa pesan sang ayah adalah salah besar karena dengan menjalankan pesan tersebut justru ia mengalami kerugian. Sementara Eko mungkin akan berpikir bahwa pesan aahnya itu sangat bijaksana dan bermanfaat dalam hidupnya karena dengan menjalankan pesan itu usahanya menjadi maju dan hidupnya sejahtera.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering atau setidaknya pernah mengalami hal seperti ini. Terkadang kita seperti Ali yang menyalahkan si pemberi pernyataan atau nasihat karena kegagalan atau kerugian yang kita alami setelah mengikutinya. Kita akan langsung mengatakan bahwa pernyataan/nasihat itu salah besar dan tidak akan percaya pada orang itu lagi. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin kitalah yang terlalu dangkal dalam memahami dan mengartikan pesan itu. Jadi ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu hal, tak ada salahnya kita duduk bersama dengan orang yang berbeda dengan kita dan membicarakan hal tersebut sambil bertukar pikiran dan mencari sumber-sumber terpercaya. Mungkin saja orang yang berbeda pendapat dengan kita itu sebenarnya seperti Eko yang lebih kritis dan kreatif dalam memahami suatu hal. Wallahu a'lam bishshowab.....

-
Sartika Ika S.-
Read more...

12 Juli 2010

Warna-Warna Kesukaan Rasulullah Saw

2 komentar

Selama ini mungkin kita hanya mengetahui bahwa Rasulullah atau Islam identik dengan warna hijau. Sebenarnya apa warna-warna favorit Rasulullah Muhammad saw?

Annas bin Malik mengatakan, “Warna yang paling disukai oleh Rasulullah saw adalah hijau.” Namun selain itu Rasul juga ternyata menyukai warna putih. Ada juga keterangan bahwa Nabi Muhammad saw pernah memakai pakaian berwarna hitam, merah hati, abu-abu dan warna campuran.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin berkata : " Yang amat disukai oleh Nabi saw ialah warna putih."

Ibnu Hajjar dalam Tanbih Al Akhbar mengatakan: "Pada hari raya kami disuruh memakai pakaian berwarna hijau karena warna hijau lebih utama. Adapun warna hijau adalah afdhal daripada warna lainnya, sesudah putih."

Ibnu Ady meriwayatkan dari Jabir r.a yang berkata: "Aku pernah melihat Nabi saw memakai serban hitam yang dipakainya pada hari raya..."

Al Baihaqi meriwayatkan hadis dari Jabir r.a katanya : "Pernah Rasulullah saw berpakaian yang bercorak merah pada dua hari raya dan pada hari Jumat."

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata : "Pernah Nabi saw keluar dengan kepala yang dibalut sehelai kain yang berwarna abu-abu."

Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Anas r.a, beliau pernah melihat : "Nabi saw menutup kepalanya dengan kain biasa yang bercorak-corak warnanya." (sa/bakkah.net)


http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/warna-warna-kesukaan-rasulullah-saw.htm
Read more...

30 Juni 2010

Gawat! Bapak-Bapak Komplek Pada Demam...

2 komentar

Ya, itu yang terjadi saat ini. Hampir semua bapak-bapak komplek kena demam. Gejalanya pusing, sulit tidur, dan badan sulit bergerak. Gawat nih! Udah sekitar 2 minggu mereka mengalaminya. Tapi satu pun gak ada yang mau di bawa ke dokter.



Kok bisa??? Ya bisa dong. Mereka rata-rata kena demam Piala Dunia. Gejalanya kepala pusing kalo mati lampu malam-malam karna jadi gak bisa nonton bola. Terus, hampir tiap malam begadang demi yang katanya tim kesayangan *padahal timnya gak sayang ama dia, bertepuk sebelah tangan nie. Gejala lainnya, badan susah gerak untuk ikut pengajian tiap kamis malam. Pokoknya, ada aja alasan yang jadi kambing hitam. Kurang enak badan lah, ada urusan lah, ini lah itu lah. Pada pinter ngarang deh 1 bulan ini. Alhasil, yang datang pengajian dikit abis. Takutnya sih, sampe 11 Juli nih pengajian bakalan vacum.



Oh no! Kalo sampe 1 bulan gak ada yang saling mengingatkan, berenti mengkaji firman-firman Allah, sekalian jalin silaturahim mau jadi apa komplek ini?! Orang tuanya aja gitu, gimana anak mudanya???



Ayolah bapak-bapak, bergegaslah kalo ada ajakan kepada Allah. Bergegaslah menghadiri majelis-majelis ilmu. Tinggalkanlah hal-hal duniawi sejenak. Untuk apa ada siaran ulang kalo bukan untuk orang-orang yang punya urusan saat pertandingan live? Berilah contoh yang baik pada generasi muda, minimal yang ada di komplek ini. Semoga Allah menetapkan hati kita semua di atas agama-Nya.



-Sartika Ika S.-
Read more...

Hush...Hush...

2 komentar

Libur, libur dan libur. Wie, waktu yang pas buat beres-beres kamar. Aku baru sadar kalo warna meja belajar yang tadinya abu-abu muda, udah makin gelap aja (ketauan jarang dipake...). Isi meja juga udah gak karuan. Peralatan kakak ku yang banyak itu, udah merajai meja belajar. Buku-buku yang cuma numpang parkir di meja akhirnya pada sempit-sempitan di pinggiran. Komputer juga udah bedebu, cermin di lemari udah buram aja. Pantes kecantikan yang selama ini terpancar jadi agak meredup (ehmm, narsis dikit..).

Tak bisa dibiarkan! Ku ambil kemoceng 'n kain lap. Waktunya ngusir debu... Semua isi meja belajar kuturunkan. Mejanya digeser, dilap sana sini. Peralatan perang yang tadinya ada di atas meja mulai diseleksi satu per satu. Ada kosmetik kakak yang udah kadaluarsa, bon belanjaan dari berbulan-bulan yang lalu, kantongan plastik, dan barang-barang yang perlu dienyahkan lainnya.

Selesai dengan meja belajar, aku beralih ke lemari. Untung isinya udah diberesin bulan lau, jadi ga repot lagi. Cuma perlu ngelap cerminnya biar makin kinclong waktu ngaca (hehheeh). Komputer di lap, kolong tempat tidur di korek-korek. Trus, kamar disapu biar debu-debu pada minggat. Hush...hush...

Finish! Karna udah kecapean, aku ga sempat ngepel kamar. Biar aja deh, besok-besok-besok. Kamarku bersih... Room Sweet Room

-Sartika Ika S.-
Read more...

25 Juni 2010

Pesona Air Terjun Sipiso-Piso

0 komentar

Sesuai rencana, tepat pada tanggal 15 Juni 2010 yang lalu, Bidang Keputrian BP2M Baiturrahmah FE USU mengadakan rihlah (jalan-jalan/bepergian) ke Air Terjun Sipiso-Piso. Wisata alam ini terletak di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara. Acara ini sudah menjadi salah satu dari progam kerja bidang ini. Rasa penasaran meliputi pikiran, karena jujur ini kali pertama saya mengunjungi tempat wisata alam ini. Apalagi ujian baru saja usai. Kegiatan ini menjadi kesempatan emas untuk mengistirahatkan pikiran sejenak.

Pukul 7.30 WIB para peserta rihlah sudah mulai berdatangan ke titik kumpul. Bus executive telah menunggu dengan setia. Tepat pukul 8.00 WIB dengan mengucapkan bismillah mulailah bus berangkat. Jalan Dr. Mansyur, Setia Budi, dan Jamin Ginting dilalui tanpa ada hambatan. seiring pergerakan bus, mulailah isi tas dikeluarkan para peserta. Mulai dari permen, keripik, dan biskuit beredar di dalam bus dari satu orang kepada yang lain. Ya, selama perjalanan saja ukhuwah itu sudah tampak dengan adanya saling berbagi. Tak ada yang merasa kelaparan selama perjalanan.

Bus terus melaju. Wilayah Pancur Batu, Sibolangit, dan Berastagi kami lalui untuk mencapai tujuan. Di sepanjang perjalanan, mata kami pun dihibur oleh keindahan alam Sang Maha Pencipta. Pepohonan yang hijau, gunung yang menjulang, awan biru terus menemani perjalanan kami. Memasuki Kabupaten Karo, pohon-pohon jeruk dan buah lainnya menyambut kedatangan kami.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 3,5 jam kami pun tiba di lokasi wisata pada pukul 11.30 WIB. Dengan membayar Rp 60.000 bus kami pun memasuki kawasan Air Terjun Sipiso-Piso. Dari sini kita dapat melihat dari jauh air terjun tersebut, bahkan Danau Toba. Tapi jangan berharap air terjun tersebut dapat langsung disentuh. Karena untuk mencapainya, kita masih harus menuruni sekitar seribu anak tangga.

Sebelum memulai petualangan, kami memutuskan untuk makan siang dan menunaikan sholat zuhur yang dijamak dengan ashar. Setelah menyelesaikan segala urusan, kami pun bersiap-siap untuk turun. Ternyata cuaca kurang bersahabat dengan kami. Hujan rintik-rintik turun membasahi tanah Karo. Beberapa di antara kami mulai ragu untuk melanjutkan misi. Namun, kami pun membulatkan tekad dan memohon perlindungan Allah untuk memulai petualangan menuju si air terjun yang telah dinanti-nanti. Dengan mengucapkan bismillah dan bertakbir, kami pun mengayunkan langkah.

Satu per satu anak tangga kami tapaki. Awalnya perjalanan ini masih terasa mudah. Wajah ceria masih terlihat pada semua peserta. Namun setelah sekitar lima belas menit, rasa lelah mulai merasuki tubuh kami, terutama di bagian kaki. Langkah mulai melambat, dan beberapa kali kami berhenti di tengah jalan sekedar untuk menarik nafas dan mengistirahatkan kaki. Rasa penasaran akan keindahan Air Terjun Sipiso-piso mendorong kami untuk terus melangkah. Jalan yang awalnya mulus karena terdiri dari tangga semen, mulai sulit terasa. Semakin ke bawah, itu semua mulai lenyap. Kami harus menyusuri jalan tanah dengan bebatuan yang banyak dan besar. Lagi-lagi ukhuwah itu tampak. Ketika ada yang kesulitan atau merasa letih melalui jalur tersebut, maka yang lain memberi kekuatan dan membantu saudaranya yang lain. Suara gemuruh air terjun mulai terdengar oleh kami di menit-menit ke empat puluh. hawa sejuk pun menelusup ke balik jaket tebal yang sudah menyelubungi tubuh kami. Suasana ini menambah daya juang kami untuk segera mancapainya.

Perjuangan selama kurang lebih satu jam tersebut membuahkan hasil. Air Terjun Sipiso-piso berdiri tegak di depan kami. Air yang jatuh dari ketinggian sekitar 120 meter ini sebagian dihembus angin dan membasahi kami. Rasa letih setelah menempuh perjalanan panjang terhapuskan oleh pesonanya. Bibir tak hentinya memuja Rabb semesta alam sambil mengagumi ciptaan-Nya. Air terus mengalir hingga mencapai Danau Toba yang berada tak terlalu jauh. Pepohonan hijau terhampar luas mengelilingi air terjun yang menjulang tinggi. Kesempatan emas ini tentunya sangat disayangkan bila tidak diabadikan. Kamera pun mulai dikeluarkan dan air terjun menjadi primadona yang tidak mau dilewatkan oleh semua peserta.

Puas memanjakan mata, hati dan pikiran kami pun kembali ke atas. Dengan nafas tersengal-sengal dan kepuasan atas pengalaman tak terlupakan tadi, kami kembali berjuang mencapai lokasi bus berada. Sesampainya di atas, kamar mandi menjadi rebutan para peserta. Mengganti pakaian dan membersihkan tubuh menjadi ritual utama setelah tubuh basah oleh air terjun ditambah noda tanah di pakaian. Setelah berbenah, beberapa peserta mengisi perut sebentar di warung yang berjejer di sekitar lokasi wisata tersebut. Ada juga yang membeli tanda mata khas daerah setempat.

Sekitar pukul 16.30 WIB kami menaiki bus dan siapp untuk pulang. Bus mulai melaju melalui jalan yang sama seperti yang kami lalui saat berangkat. Di tengah perjalanan, peserta pun menyempatkan diri membeli oleh-oleh berupa buah khas tanah karo seperti jeruk dan markisa. Perjalanan terus berlanjut. Hujan rintik-rintik sempat mengiringi kepulangan kami ke Medan.

Pukul 20.00 saya pun tiba di rumah. Markisa pun menjadi oleh-oleh yang saya persembahkan bagi keluarga saya. Alhamdulillah, Allah telah melindungi kami hingga dapat bertemu kembali dengan keluarga di rumah, berbagi oleh-oleh, dan tentunya mengisahkan petualangan yang tak terlupakan.
-Sartika Ika S.-
Read more...

19 Juni 2010

Nyoblos (Lagi)

0 komentar

Wah, bangun pagi langsung diingatin mama "kita nanti nyoblos jam 9 ya...". Ups, hampir lupa kalo hari ini tanggal 19 Juni 2010. Hari yang sengaja diliburkan oleh pemerintah, tapi khusus Medan lho. Buat apa lagi kalo bukan untuk menyukseskan Pemilukada Walikota dan Wakil Walikota Medan Putaran Kedua periode 2010-2015. Kenapa sampe 2 kali putaran? Jadi gini ceritanya...

Tanggal 12 Mei 2010 lalu, Medan udah ngadain Pemilukada. Calonnya gak tanggung-tanggung, ada 10 pasangan. Busyyeet!!! Saking banyaknya, pecah deh suara masyarakat kota Medan. Apalagi pasangan yang islam ada sembilan pasang. Alhasil suara yg diperoleh tiap pasangan gak ada yg memenuhi syarat, yaitu mencapai 30%. Makanya dibuatlah pemilukada putaran kedua.

Di putaran kedua ini, pasangan yang lolos cuma 2, Rahudman-Eldin dan Sofyan Tan-nelly. Tiap pasangan punya ciri masing-masing. Yang satu pasangan murni pribumi, satu lagi keturunan tionghoa. Yang satu seagama, satu lagi beda. Yang satu orang birokrat, satu lagi dokter dan termasuk tokoh pendidikan. Yang satu ganda putra, satu lagi ganda campuran. Yang satu ga banyak kampanye, satu lagi gelar kampanye akbar plus berjanji gantung diri kalo melakukan korupsi. Emang banyak bedanya. Tapi ada satu kesamaannya. Dua-duanya masih belum sreg di hati. Jadi pilih yang mana dong???

Bimbang masih menyelimuti hati sampe udah mau berangkat ke TPS. Sambil berjalan kaki, ku bulatkan hati memilih pada satu pasangan. Ya, biarpun gak sreg-sreg amat tapi daripada yang itu mending yang ini. Suasana TPS juga sunyi. Gimana enggak. Waktu pemilu putaran pertama aja banyak masyarakat yang gak pake hak suaranya. Umumnya masih banyak orang yang berpikir, "siapa pun pemimpinnya, sama aja". Padahal kan gak gitu. Kalo kita sendiri gak peduli siapa pemimpin kita, berarti kita ga bisa nuntut dia untuk peduli sama kita dong. Apalagi di putaran kedua ini. Belum lagi yang jagoannya udah kalah di putaran pertama. Udah deh, pada cuek sama putaran kedua. Ditambah malam sebelumnya begadang nonton piala dunia. Makin males lah mereka datang ke TPS.

Sekarang cuma bisa berdoa sama Allah. Siapa pun yang akan memimpin kota Medan nanti semoga merupakan orang yang amanah. Yang peduli dengan kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyatnya. Dan tentunya orang yang jujur, gak korupsi. Jabatan bukan dipakai buat balikin modal kampanye 'n nambahin deposito di bank. Tapi harus dipakai 100% untuk kemaslahatan ummat. Semoga....

-Sartika Ika S.-
Read more...