"...boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al Baqarah: 216)"
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
10 Oktober 2013
♥ ALLAH
21 April 2011
Tabayyun Lebih Asik Daripada "Katanya...."

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba muncul berita yg cukup menggemparkan. Kenapa??? Salah satu program kerja di organisasi yg aku ikuti katanya ga diizinkan sang ketua untuk dilaksanakan. Whaat???? Padahal udah dipikirin matang-matang, udah publikasi heboh dari sana-sini, tanggalnya juga udah dekat, pokoknya tinggal launching aja lah ni ceritanya. Langsung lah berita itu menyerbak aromanya ke seantero organisasi. "Katanya, ketua ga setuju. Mana bisa gitu. Batalin kok dadakan. Apa-apaan nih. Gak bisa gitu. Kita udah capek-capek juga. Bla...bla...bla..." Beragam komentar pun mengudara. Ada yg langsung panas, berurai air mata, ngomal ngomel sana sini, dan reaksi-reaksi spontan lainnya.
Ya... Terlalu cepat tersulut emosi. Terlalu cepat bereaksi. Lupa untuk ber-husnudzan pada saudara sendiri. Hingga akhirnya ada juga yg tersadar dan langsung menanyakan hal ini pada sang ketua.
Apa jawaban beliau??? Ternyata beliau tidak pernah mengeluarkan statement kayak gitu. Yg benar, beliau hanya menyarankan agar lokasi acara sebaiknya diganti, namun jika memang tidak ada tempat yg lebih baik, yasudah tidak apa-apa.
Gedubbrakkk.....!!! Cuma gitu aja??? Ya ampun... Udah banyak energi yg dikeluarkan untuk menanggapi katanya tadi. Udah berapa banyak dosa yg ditimbulkan karna kesalahpahaman n telat tabayyun tadi? Astaghfirullah....
Cerita di atas hanya secuil kisah yg menggambarkan bahayanya efek katanya jika ditanggapi bulat-bulat. Bisa menimbulkan kesalahpahaman, su'udzan, fitnah, merusak ukhuwah, kecemasan, dan hal-hal menyeramkan lainnya sampai dengan dosa.
Sementara tabayyun (klarifikasi langsung) begitu indah dalam mengkomunikasikan suatu isu atau permasalahan pada si pihak pertama langsung. Sehingga dapat menghindari efek-efek katanya di atas. Sebagaimana secara indah Allah menasihati kita:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (klarifikasi) agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum dengan ketidaktahuan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. AL-Hujurat: 6)”.
Teman-teman, kisah sejenis mungkin pernah, sering, atau akan menghampiri kita. Stop..!!! Jangan cepat naik darah, jangan bereaksi aneh-aneh. Tapi segeralah tabayyun. InsyaAllah hasilnya kan lebih baik dan berita menjadi jelas.
*setiap tulisan yg dibuat adalah untuk berbagi dan menasihati diri sendiri
-Sartika Ika S-
Ya... Terlalu cepat tersulut emosi. Terlalu cepat bereaksi. Lupa untuk ber-husnudzan pada saudara sendiri. Hingga akhirnya ada juga yg tersadar dan langsung menanyakan hal ini pada sang ketua.
Apa jawaban beliau??? Ternyata beliau tidak pernah mengeluarkan statement kayak gitu. Yg benar, beliau hanya menyarankan agar lokasi acara sebaiknya diganti, namun jika memang tidak ada tempat yg lebih baik, yasudah tidak apa-apa.
Gedubbrakkk.....!!! Cuma gitu aja??? Ya ampun... Udah banyak energi yg dikeluarkan untuk menanggapi katanya tadi. Udah berapa banyak dosa yg ditimbulkan karna kesalahpahaman n telat tabayyun tadi? Astaghfirullah....
(>.<)
Cerita di atas hanya secuil kisah yg menggambarkan bahayanya efek katanya jika ditanggapi bulat-bulat. Bisa menimbulkan kesalahpahaman, su'udzan, fitnah, merusak ukhuwah, kecemasan, dan hal-hal menyeramkan lainnya sampai dengan dosa.
Sementara tabayyun (klarifikasi langsung) begitu indah dalam mengkomunikasikan suatu isu atau permasalahan pada si pihak pertama langsung. Sehingga dapat menghindari efek-efek katanya di atas. Sebagaimana secara indah Allah menasihati kita:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (klarifikasi) agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum dengan ketidaktahuan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. AL-Hujurat: 6)”.
Teman-teman, kisah sejenis mungkin pernah, sering, atau akan menghampiri kita. Stop..!!! Jangan cepat naik darah, jangan bereaksi aneh-aneh. Tapi segeralah tabayyun. InsyaAllah hasilnya kan lebih baik dan berita menjadi jelas.
*setiap tulisan yg dibuat adalah untuk berbagi dan menasihati diri sendiri
-Sartika Ika S-
21 Januari 2011
Berilah, Maka Kita Akan Menerimanya

Di akhir-akhir libur semester, aku ingat udah lama ga nge post. Pas bingung mau nge post apa, berseliweran di pikiranku tentang suatu kisah yg pernah kubaca. Dongeng yg waktu itu ditujukan untuk anak kecil, tapi sekarang anak kecil itu sudah besar. Dan kisah ini menurut si "mantan anak kecil" itu, memiliki pesan moral yg perlu diketahui semua orang. Dongeng dari majalah Bobo yg berusaha kuingat. Chekidot..........
**********
Seorang remaja, sebut saja Ucok, hidup sebatang kara di suatu desa. Tanpa ada seorang pun sanak famili, Ucok berusaha menghidupi dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang biasa, tanpa mendapatkan pendidikan, dan tidak memiliki suatu keahlian. Akhirnya ia harus bekerja serabutan hanya untuk melanjutkan kehidupan, mungkin tanpa arah dan tujuan.
Ya, begitulah Ucok. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras yg ditanak menjadi nasi. Tanpa lauk, bahkan sekedar garam sekali pun. Namun Ucok bisa mengakali kehambaran itu. Setiap kali waktu makan tiba, Ucok berjalan menuju suatu kedai nasi yg terkenal di kampung itu. Kedai ini memiliki beragam masakan yg rasanya tidak diragukan lagi. Siapa pun pasti tak kan menolak bila disuguhi dengan menu-menu mereka, terutama ikan bakar yg menjadi jagoan di kedai ini. Tentu saja, harga yg ditawarkan untuk setiap porsinya hanya dapat dipenuhi oleh golongan menengah ke atas. Ucok yg seorang miskin tentu tak memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Namun Ucok tak kehabisan akal. Dengan bermodal sebungkus nasi yg ia masak sendiri, Ucok mengambil posisi duduk tepat di samping jendela tukang masak yg sedang membakar ikan di dapur kedai itu. Ucok membuka daun pisang pembungkus nasinya. Sambil menghirup aroma sedap ikan yg sedang dibakar, ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Hanya dengan menghirup aromanya, Ucok serasa sedang mengunyah lembutnya daging ikan itu. Begitulah yg dilakukan Ucok setiap hari.
Awalnya pemilik kedai tidak peduli dengan perbuatan Ucok ini. Namun lama-kelamaan ia merasa Ucok telah mengambil keuntungan tanpa izinnya. Ia merasa Ucok sudah seharusnya membayar padanya atas kenikmatan yg dirasakan Ucok slama ini. Biar pun hanya menghirup aroma ikan, namun itu sudah memberikan kenikmatan bagi Ucok. Artinya sama saja seperti Ucok sudah memakan ikan bakar buatannya. Maka si pemilik kedai menuntut Ucok untuk membayar segala kenikmatan yg sudah didapatnya selama ini. Ucok yg merasa tidak pernah merugikan pemilik kedai pun tidak mau membayar. Apa lagi Ucok memang tidak memiliki uang untuk membayarnya.
Pemilik kedai tidak mau terima. Ia pun melaporkan hal ini pada Raja yg berkuasa. Ia meminta Raja untuk menghukum Ucok dan memaksanya agar mau membayar. Raja yg bijak tak mau hanya mendengar dari satu pihak saja. Ia memanggil Ucok untuk menghadapnya dan meminta Ucok menceritakan apa yg terjadi. Dengan jujur, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, Ucok menjelaskan pada Raja kronologi kejadian. Raja mencoba memahami masalah yg dihadapi rakyatnya dan berusaha mencarikan solusi yg seadil-adilnya.
Esok harinya, Raja memanggil Ucok, pemilik kedai, dan para rakyatnya untuk berkumpul menyaksikan penyelesaian masalah ini. Dihadapan mereka, Raja telah menyiapkan sekantung koin emas. Pemilik kedai sangat girang melihat koin itu. Ia yakin kasus ini akan ia menangkan.
"Wahai rakyatku, saudara kita ini sedang mengalami perselisihan. Maka dari itu, hari ini Aku sebagai Raja kalian akan menyelesaikan masalah ini."
"Pemilik kedai, Kau menuntut Ucok untuk membayar aroma ikan bakar mu yg selama ini telah dihirupnya. Bukan begitu?" tanya Raja.
"Benar Yang Mulia..." jawab pemilik kedai.
"Dan Ucok, Kau mengakui hal itu?" tanya Raja.
"Benar Yang Mulia..." jawab Ucok.
"Baiklah. Untuk itu, Aku sudah menyediakan sekantung koin emas untuk membayar utang Ucok pada pemilik kedai. Pemilik kedai, terimalah pembayaran ini..."
Lalu Raja menggoyangkan kantung tersebut dan menumpahkan isinya. Mata pemilik kedai langsung bersinar ceria. Ketika pemilik kedai ingin mengumpulkan koin tersebut, Raja mencegahnya.
"Tidak. Kau tidak boleh mengembil koin itu. Itu bukan hak mu. Kau telah mendapat pembayarannya tadi."
"Apa maksud Yang Mulia?" tanya pemilik kedai dengan sangat bingung.
"Selama ini Ucok hanya menghirup aroma sedap dari ikan bakarmu, Ia tidak pernah mencicipinya sedikit pun. Maka dari itu, Kau pun hanya berhak mendengarkan gemerincing koin itu tanpa boleh mendapatkannya"
Ya, begitulah Ucok. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras yg ditanak menjadi nasi. Tanpa lauk, bahkan sekedar garam sekali pun. Namun Ucok bisa mengakali kehambaran itu. Setiap kali waktu makan tiba, Ucok berjalan menuju suatu kedai nasi yg terkenal di kampung itu. Kedai ini memiliki beragam masakan yg rasanya tidak diragukan lagi. Siapa pun pasti tak kan menolak bila disuguhi dengan menu-menu mereka, terutama ikan bakar yg menjadi jagoan di kedai ini. Tentu saja, harga yg ditawarkan untuk setiap porsinya hanya dapat dipenuhi oleh golongan menengah ke atas. Ucok yg seorang miskin tentu tak memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Namun Ucok tak kehabisan akal. Dengan bermodal sebungkus nasi yg ia masak sendiri, Ucok mengambil posisi duduk tepat di samping jendela tukang masak yg sedang membakar ikan di dapur kedai itu. Ucok membuka daun pisang pembungkus nasinya. Sambil menghirup aroma sedap ikan yg sedang dibakar, ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Hanya dengan menghirup aromanya, Ucok serasa sedang mengunyah lembutnya daging ikan itu. Begitulah yg dilakukan Ucok setiap hari.
Awalnya pemilik kedai tidak peduli dengan perbuatan Ucok ini. Namun lama-kelamaan ia merasa Ucok telah mengambil keuntungan tanpa izinnya. Ia merasa Ucok sudah seharusnya membayar padanya atas kenikmatan yg dirasakan Ucok slama ini. Biar pun hanya menghirup aroma ikan, namun itu sudah memberikan kenikmatan bagi Ucok. Artinya sama saja seperti Ucok sudah memakan ikan bakar buatannya. Maka si pemilik kedai menuntut Ucok untuk membayar segala kenikmatan yg sudah didapatnya selama ini. Ucok yg merasa tidak pernah merugikan pemilik kedai pun tidak mau membayar. Apa lagi Ucok memang tidak memiliki uang untuk membayarnya.
Pemilik kedai tidak mau terima. Ia pun melaporkan hal ini pada Raja yg berkuasa. Ia meminta Raja untuk menghukum Ucok dan memaksanya agar mau membayar. Raja yg bijak tak mau hanya mendengar dari satu pihak saja. Ia memanggil Ucok untuk menghadapnya dan meminta Ucok menceritakan apa yg terjadi. Dengan jujur, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, Ucok menjelaskan pada Raja kronologi kejadian. Raja mencoba memahami masalah yg dihadapi rakyatnya dan berusaha mencarikan solusi yg seadil-adilnya.
Esok harinya, Raja memanggil Ucok, pemilik kedai, dan para rakyatnya untuk berkumpul menyaksikan penyelesaian masalah ini. Dihadapan mereka, Raja telah menyiapkan sekantung koin emas. Pemilik kedai sangat girang melihat koin itu. Ia yakin kasus ini akan ia menangkan.
"Wahai rakyatku, saudara kita ini sedang mengalami perselisihan. Maka dari itu, hari ini Aku sebagai Raja kalian akan menyelesaikan masalah ini."
"Pemilik kedai, Kau menuntut Ucok untuk membayar aroma ikan bakar mu yg selama ini telah dihirupnya. Bukan begitu?" tanya Raja.
"Benar Yang Mulia..." jawab pemilik kedai.
"Dan Ucok, Kau mengakui hal itu?" tanya Raja.
"Benar Yang Mulia..." jawab Ucok.
"Baiklah. Untuk itu, Aku sudah menyediakan sekantung koin emas untuk membayar utang Ucok pada pemilik kedai. Pemilik kedai, terimalah pembayaran ini..."
Lalu Raja menggoyangkan kantung tersebut dan menumpahkan isinya. Mata pemilik kedai langsung bersinar ceria. Ketika pemilik kedai ingin mengumpulkan koin tersebut, Raja mencegahnya.
"Tidak. Kau tidak boleh mengembil koin itu. Itu bukan hak mu. Kau telah mendapat pembayarannya tadi."
"Apa maksud Yang Mulia?" tanya pemilik kedai dengan sangat bingung.
"Selama ini Ucok hanya menghirup aroma sedap dari ikan bakarmu, Ia tidak pernah mencicipinya sedikit pun. Maka dari itu, Kau pun hanya berhak mendengarkan gemerincing koin itu tanpa boleh mendapatkannya"
**********
Itu lah kisah yg pernah kubaca. Apakah salah jika kita bisa bermanfaat bagi orang lain? Tentu TIDAK! Justru kita harus bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain, agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia. Jangan pernah takut untuk memberi. Karena dengan memberi kita akan semakin bersyukur dengan nikmat yg telah kita dapatkan, dan InsyaAllah Allah malah akan menambah kenikmatan itu. Jadi jangan pernah takut merasa kurang. Kalo kita memberi tanggung-tanggung, maka yg kita dapatkan juga tanggung-tanggung, kayak si pemilik kedai tadi.
Satu lagi, jadilah pemimpin yg adil dan bijaksana. Pemimpin yg dapat mengayomi, mendengarkan masalah, membantu, dan bertindak untuk umat. Pemimpin yg seperti ini pasti dicintai rakyat dan akan didoakan kebaikannya.
-Sartika Ika S-
Satu lagi, jadilah pemimpin yg adil dan bijaksana. Pemimpin yg dapat mengayomi, mendengarkan masalah, membantu, dan bertindak untuk umat. Pemimpin yg seperti ini pasti dicintai rakyat dan akan didoakan kebaikannya.
-Sartika Ika S-
17 Juli 2010
Beda Orang, Beda Pemikiran

Assalamu'alaykum...
Saat masih balita dulu, mama saya selalu membacakan buku cerita pada saya. Beliau selalu membelikan saya sebuah majalah bernama "Bobo" dan mengisahkan isinya dengan cara yang sangat menarik. Saat itu, saya selalu merasa senang tiap kali mama membacakan cerita untuk saya. Hingga duduk di bangku sekolah dasar, saya masih setia mengonsumsi cerita dan informasi yang disajikan majalah anak-anak itu. Namun, tentunya saya sudah bisa membacanya sendiri tanpa bantuan mama. Banyak kisah menarik yang saya dapatkan. Informasi yang disampaikan juga sangat edukatif. Dari majalah itulah pertama kali saya mengenal istilah deja vu, tumbuhan bernama leunca, dan sebagainya. Saya juga terdorong untuk belajar menulis surat dan mengirimnya ke kantor pos karena saya mendapat sahabat pena dari majalah tersebut.
Ada beberapa kisah atau cerpen dari majalah tersebut yang masih saya ingat sampai sekarang. Dan saya baru menyadari bahwa cerita tersebut mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna bagi kehidupan. Saya ingin berbagi salah satu cerpennya kepada para pembaca, tentunya dengan bahasa saya dan beberapa perubahan karena saya tidak ingat pasti kata-katanya. Saya lupa judulnya apa, tapi marilah kita mengambil hikmah dari cerita ini.
**********
Di sebuah desa, hiduplah seorang pedagang tua bernama Pak Amir (ngarang-red). Ia telah menjalankan usahanya selama berpuluh-puluh tahun. Ia memiliki sebuah toko yang cukup besar di desa itu. Disana ia menjual berbagai barang kebutuhan masyarakat. Meskipun ia dapat dikatakan orang terkaya di desanya, namun ia tidak sombong dan tetap hidup sederhana. Ia menjalankan usahanya dengan penuh disiplin sehingga bisa menjadi sukses.
Pak Amir sudah tidak memiliki istri lagi. Sang pendamping setia telah dipanggil yang Maha Kuasa beberapa tahun yang lalu. Sekarang beliau hanya tinggal bersama kedua buah hatinya yaitu Ali dan Eko (ngarang lagi-red). Mereka selalu hidup rukun dan saling menyayangi.
Suatu hari, Pak Amir terserang sakit yang cukup parah. Ia merasa umurnya tidak panjang lagi. Ia pun mengumpulkan kedua anaknya untuk memberi pesan terakhir. Dengan penuh keharuan, Ali dan Eko duduk di samping tempat tidur ayahnya sambil mendengarkan ucapan ayahnya dengan penuh perhatian.
"Ali... Eko... Mungkin Ayah tidak hidup lama lagi. Ayah hanya ingin berpesan pada kalian, bukalah toko kalian masing-masing di tempat yang berbeda. Ketika pergi dan pulang dari toko jangan sampai kalian terkena matahari. Lalu, makanlah ikan dengan jumlah mata 1000 mata setiap harinya......"
Setelah menyampaikan pesan itu, malaikat maut pun menjemput Pak Amir. Setelah menyelesaikan segala urusan yang menyangkut beliau, Ali dan Eko pun segera menjalankan pesan ayahnya. Dengan bermodal harta peninggalan sang ayah, keduanya mulai membuka toko masing-masing yang terletak berjauhan.
Berdasarkan pesan ayahnya, Ali pun membeli sebuah kereta kencana yang akan membawanya setiap hari dari rumah ke toko dan sebaliknya, sehingga ia tidak terkena matahari yang cukup panas saat berangkat maupun pulang. Ia juga membeli 500 ekor ikan bawal setiap hari untuk dikonsumsi. Kebiasaannya ini membuat pengeluarannya lebih besar dari pemasukannya. Usahanya yang dirintisnya juga tidak begitu maju.
Berbeda dengan Ali, Eko menjalankan pesan terakhir ayahnya dengan cara membuka tokonya di waktu pagi buta saat matahari belum menunjukkan sinarnya. Dengan begitu masyarakat yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari akan datang ke tokonya karena jam segitu belum ada toko lain yang tutup. Ia menutup tokonya saat matahari sedah terbenam sehingga waktu buka tokonya lebih lama daripada toko lain. Dengan demikian ia tidak pernah terkena matahari saat membuka atau menutup tokonya. Eko sehari-harinya mengonsumsi ika teri yang biarpun banyak, namun harganya tetap murah sehingga tercapailah setiap harinya ia memakan ikan dengan jumlah mata 1000 buah. Berkat kesederhanaan, disiplin, dan kerja kerasnya maka usaha yang dirintis Eko maju pesat meninggalkan usaha Ali.
Berdasarkan pesan ayahnya, Ali pun membeli sebuah kereta kencana yang akan membawanya setiap hari dari rumah ke toko dan sebaliknya, sehingga ia tidak terkena matahari yang cukup panas saat berangkat maupun pulang. Ia juga membeli 500 ekor ikan bawal setiap hari untuk dikonsumsi. Kebiasaannya ini membuat pengeluarannya lebih besar dari pemasukannya. Usahanya yang dirintisnya juga tidak begitu maju.
Berbeda dengan Ali, Eko menjalankan pesan terakhir ayahnya dengan cara membuka tokonya di waktu pagi buta saat matahari belum menunjukkan sinarnya. Dengan begitu masyarakat yang ingin membeli kebutuhan sehari-hari akan datang ke tokonya karena jam segitu belum ada toko lain yang tutup. Ia menutup tokonya saat matahari sedah terbenam sehingga waktu buka tokonya lebih lama daripada toko lain. Dengan demikian ia tidak pernah terkena matahari saat membuka atau menutup tokonya. Eko sehari-harinya mengonsumsi ika teri yang biarpun banyak, namun harganya tetap murah sehingga tercapailah setiap harinya ia memakan ikan dengan jumlah mata 1000 buah. Berkat kesederhanaan, disiplin, dan kerja kerasnya maka usaha yang dirintis Eko maju pesat meninggalkan usaha Ali.
**********
Dari cerita di atas dapat kita lihat bahwa sebuah pernyataan yang sama yang disampaikan pada 2 orang yang berbeda dapat memiliki arti yang berbeda pula. Ali mungkin akan berpikir bahwa pesan sang ayah adalah salah besar karena dengan menjalankan pesan tersebut justru ia mengalami kerugian. Sementara Eko mungkin akan berpikir bahwa pesan aahnya itu sangat bijaksana dan bermanfaat dalam hidupnya karena dengan menjalankan pesan itu usahanya menjadi maju dan hidupnya sejahtera.
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering atau setidaknya pernah mengalami hal seperti ini. Terkadang kita seperti Ali yang menyalahkan si pemberi pernyataan atau nasihat karena kegagalan atau kerugian yang kita alami setelah mengikutinya. Kita akan langsung mengatakan bahwa pernyataan/nasihat itu salah besar dan tidak akan percaya pada orang itu lagi. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin kitalah yang terlalu dangkal dalam memahami dan mengartikan pesan itu. Jadi ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu hal, tak ada salahnya kita duduk bersama dengan orang yang berbeda dengan kita dan membicarakan hal tersebut sambil bertukar pikiran dan mencari sumber-sumber terpercaya. Mungkin saja orang yang berbeda pendapat dengan kita itu sebenarnya seperti Eko yang lebih kritis dan kreatif dalam memahami suatu hal. Wallahu a'lam bishshowab.....
-Sartika Ika S.-
Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering atau setidaknya pernah mengalami hal seperti ini. Terkadang kita seperti Ali yang menyalahkan si pemberi pernyataan atau nasihat karena kegagalan atau kerugian yang kita alami setelah mengikutinya. Kita akan langsung mengatakan bahwa pernyataan/nasihat itu salah besar dan tidak akan percaya pada orang itu lagi. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa mungkin kitalah yang terlalu dangkal dalam memahami dan mengartikan pesan itu. Jadi ketika terjadi perbedaan pendapat mengenai suatu hal, tak ada salahnya kita duduk bersama dengan orang yang berbeda dengan kita dan membicarakan hal tersebut sambil bertukar pikiran dan mencari sumber-sumber terpercaya. Mungkin saja orang yang berbeda pendapat dengan kita itu sebenarnya seperti Eko yang lebih kritis dan kreatif dalam memahami suatu hal. Wallahu a'lam bishshowab.....
-Sartika Ika S.-
Langganan:
Postingan (Atom)
