21 Januari 2011

Berilah, Maka Kita Akan Menerimanya

8 komentar

Di akhir-akhir libur semester, aku ingat udah lama ga nge post. Pas bingung mau nge post apa, berseliweran di pikiranku tentang suatu kisah yg pernah kubaca. Dongeng yg waktu itu ditujukan untuk anak kecil, tapi sekarang anak kecil itu sudah besar. Dan kisah ini menurut si "mantan anak kecil" itu, memiliki pesan moral yg perlu diketahui semua orang. Dongeng dari majalah Bobo yg berusaha kuingat. Chekidot..........

**********
Seorang remaja, sebut saja Ucok, hidup sebatang kara di suatu desa. Tanpa ada seorang pun sanak famili, Ucok berusaha menghidupi dirinya sendiri. Ia hanyalah seorang biasa, tanpa mendapatkan pendidikan, dan tidak memiliki suatu keahlian. Akhirnya ia harus bekerja serabutan hanya untuk melanjutkan kehidupan, mungkin tanpa arah dan tujuan.

Ya, begitulah Ucok. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras yg ditanak menjadi nasi. Tanpa lauk, bahkan sekedar garam sekali pun. Namun Ucok bisa mengakali kehambaran itu. Setiap kali waktu makan tiba, Ucok berjalan menuju suatu kedai nasi yg terkenal di kampung itu. Kedai ini memiliki beragam masakan yg rasanya tidak diragukan lagi. Siapa pun pasti tak kan menolak bila disuguhi dengan menu-menu mereka, terutama ikan bakar yg menjadi jagoan di kedai ini. Tentu saja, harga yg ditawarkan untuk setiap porsinya hanya dapat dipenuhi oleh golongan menengah ke atas. Ucok yg seorang miskin tentu tak memiliki kesempatan untuk mencicipinya. Namun Ucok tak kehabisan akal. Dengan bermodal sebungkus nasi yg ia masak sendiri, Ucok mengambil posisi duduk tepat di samping jendela tukang masak yg sedang membakar ikan di dapur kedai itu. Ucok membuka daun pisang pembungkus nasinya. Sambil menghirup aroma sedap ikan yg sedang dibakar, ia mulai menyuapkan nasi ke mulutnya. Hanya dengan menghirup aromanya, Ucok serasa sedang mengunyah lembutnya daging ikan itu. Begitulah yg dilakukan Ucok setiap hari.

Awalnya pemilik kedai tidak peduli dengan perbuatan Ucok ini. Namun lama-kelamaan ia merasa Ucok telah mengambil keuntungan tanpa izinnya. Ia merasa Ucok sudah seharusnya membayar padanya atas kenikmatan yg dirasakan Ucok slama ini. Biar pun hanya menghirup aroma ikan, namun itu sudah memberikan kenikmatan bagi Ucok. Artinya sama saja seperti Ucok sudah memakan ikan bakar buatannya. Maka si pemilik kedai menuntut Ucok untuk membayar segala kenikmatan yg sudah didapatnya selama ini. Ucok yg merasa tidak pernah merugikan pemilik kedai pun tidak mau membayar. Apa lagi Ucok memang tidak memiliki uang untuk membayarnya.

Pemilik kedai tidak mau terima. Ia pun melaporkan hal ini pada Raja yg berkuasa. Ia meminta Raja untuk menghukum Ucok dan memaksanya agar mau membayar. Raja yg bijak tak mau hanya mendengar dari satu pihak saja. Ia memanggil Ucok untuk menghadapnya dan meminta Ucok menceritakan apa yg terjadi. Dengan jujur, tanpa ada bumbu-bumbu tambahan, Ucok menjelaskan pada Raja kronologi kejadian. Raja mencoba memahami masalah yg dihadapi rakyatnya dan berusaha mencarikan solusi yg seadil-adilnya.

Esok harinya, Raja memanggil Ucok, pemilik kedai, dan para rakyatnya untuk berkumpul menyaksikan penyelesaian masalah ini. Dihadapan mereka, Raja telah menyiapkan sekantung koin emas. Pemilik kedai sangat girang melihat koin itu. Ia yakin kasus ini akan ia menangkan.

"Wahai rakyatku, saudara kita ini sedang mengalami perselisihan. Maka dari itu, hari ini Aku sebagai Raja kalian akan menyelesaikan masalah ini."

"Pemilik kedai, Kau menuntut Ucok untuk membayar aroma ikan bakar mu yg selama ini telah dihirupnya. Bukan begitu?" tanya Raja.

"Benar Yang Mulia..." jawab pemilik kedai.

"Dan Ucok, Kau mengakui hal itu?" tanya Raja.

"Benar Yang Mulia..." jawab Ucok.

"Baiklah. Untuk itu, Aku sudah menyediakan sekantung koin emas untuk membayar utang Ucok pada pemilik kedai. Pemilik kedai, terimalah pembayaran ini..."

Lalu Raja menggoyangkan kantung tersebut dan menumpahkan isinya. Mata pemilik kedai langsung bersinar ceria. Ketika pemilik kedai ingin mengumpulkan koin tersebut, Raja mencegahnya.

"Tidak. Kau tidak boleh mengembil koin itu. Itu bukan hak mu. Kau telah mendapat pembayarannya tadi."

"Apa maksud Yang Mulia?" tanya pemilik kedai dengan sangat bingung.

"Selama ini Ucok hanya menghirup aroma sedap dari ikan bakarmu, Ia tidak pernah mencicipinya sedikit pun. Maka dari itu, Kau pun hanya berhak mendengarkan gemerincing koin itu tanpa boleh mendapatkannya"

**********
Itu lah kisah yg pernah kubaca. Apakah salah jika kita bisa bermanfaat bagi orang lain? Tentu TIDAK! Justru kita harus bisa memberi manfaat sebesar-besarnya bagi orang lain, agar kita bisa menjadi sebaik-baik manusia. Jangan pernah takut untuk memberi. Karena dengan memberi kita akan semakin bersyukur dengan nikmat yg telah kita dapatkan, dan InsyaAllah Allah malah akan menambah kenikmatan itu. Jadi jangan pernah takut merasa kurang. Kalo kita memberi tanggung-tanggung, maka yg kita dapatkan juga tanggung-tanggung, kayak si pemilik kedai tadi.

Satu lagi, jadilah pemimpin yg adil dan bijaksana. Pemimpin yg dapat mengayomi, mendengarkan masalah, membantu, dan bertindak untuk umat. Pemimpin yg seperti ini pasti dicintai rakyat dan akan didoakan kebaikannya.

-Sartika Ika S-



Read more...

10 Januari 2011

Perjalanan Ku

4 komentar

Bismillah...
Sebelum memulai suatu perjalanan,
tentu tak kan ku lupakan untuk tancapkan niat
Ku lakukan ini sebagai bakti pada orang tuaku,
semata-mata mengharap ridho Mu


Bersiap diri...
Menyiapkan perbekalan untuk bertahan
Bersiap menghadapi tantangan

Perjalanan dimulai...
Begitu panjang dan berlarut
Semangat ku begitu membuncah
Mengingat tujuan yang akan diraih,
di depan sana

Lurus, terus lurus...
Semakin lama ku berjalan,
semakin banyak cobaan menghadang
Dari kiri, kanan, segala arah
Mencoba meruntuhkan semangat ini

Jalan mulai berliku,

semakin berliku
terkadang ku rasakan sakit
Hampir ku menyerah

Untung ada kau di sisiku, wahai Saudaraku...
Berpegangan tangan, erat
Saling menguatkan
Hingga kita pun tak terhentikan oleh godaan, rintangan

Ku luruskan niat...

Engkau pasti menolong kami ya Rabb
Ku ingat ujung perjalanan ini
Tujuan dan impian kami
Ia begitu indah, manis
Tak sembarang untuk meraihnya,
tak mudah

Terima kasih ya Rabb...

Kau memilih kami
Takkan kami sia-siakan
Berjuang, semangat
Hingga Kau menghadiahkannya pada kami


**Terinspirasi Perjalanan Medan-Dolok Sanggul-Medan 06012011-09012011**

-Sartika Ika S-
Read more...

17 Desember 2010

Kenapa Merah-Putih-Hijau?

6 komentar

Bulan ini warga negara Indonesia di mana pun berada lagi heboh sama yg namanya pertandingan Piala AFF. Itu tuh, sepak bola antar kawasan Asia Tenggara. Aku juga gak terkecuali. Tapi aku sih ga gila-gila amat. Gimana mau gila, wong tandingnya pas kita-kita lagi pada UAS. Jadi lah aku nonton cuma di moment gol Indonesia. Jadi, dari sudut kamar aku memasang kuping baik-baik (ya iyalah, emang bisa dilepas?). Dengan tetap mengarahkan konsentrasi ke buku, slide, dan foto copy an, aku terus menajamkan pendengaranku. Ketika keluarga yg nonton pada teriak
GOOOLLL... Aku pun berlari keluar kamar dan ikut bergembira. Terlalu di dramatisir ya? Tapi kira-kira gitu lah kejadiannya.

Di sela-sela pertandingan Indonesia vs Filipina, aku sempat liat penonton yg hadir. Salah satunya adalah Ibu Ani Yudhoyono. Beliau mengenakan jaket berlambang garuda di dadanya, kayakya sih itu jaket timnas. Awalnya aku biasa aja ngeliatnya. Tapi kalo diperhatiin, ada sesuatu yg buat aku bingung. Kok warna jaketnya Merah-Putih-Hijau? Bukannya biasanya baju seragam timnas itu warnanya Merah-Putih aja ya? Kalo pun ada, warna hitam dikit-dikit misalnya untuk nulis nama, dll. Tapi yg ini hijau. Perpaduan warna ini mengingatkan aku pada sesuatu. Iya, hari natal. Seingatku, natal itu identik sama warna merah (kostum sinterklas), putih (salju), dan hijau (pohon cemara). Hmmm, apa ada hubungannya ya? Tanya kenapa

-Sartika Ika S-
Read more...

04 Desember 2010

Ayo Meminta Maaf

5 komentar

Kata maaf memang adalah kata2 yang sangat gak asing bagi kita. Apalagi kalo menjelang Idul Fitri. Kata maaf dengan lancarnya mengalir dari mulut tiap orang, menghiasi sms kawan dan sodara, baik itu disampaikan dengan ikhlas atau pun cuma basa basi doang. Selain itu, waktu lagi ada masalah atau gesekan2 sama seseorang, kita juga bakal berusaha meminta maaf atau memaafkan. Tapi itu juga kalo ga kalah sama gengsi. Ya, kata maaf terkesan biasa atau wajar alias standar di moment itu.

Nah, gimana jadinya kalo kata maaf diucapkan tiba2 di suatu malam, ga ada angin, ga ada hujan, ga ada petir? Itulah yang kulakukan tadi malam. Tiba-tiba aku merasa gelisah dan susah tidur malam ini. Mungkin salah satu faktornya adalah beberapa hari ini aku menghadapi beberapa masalah "kecil" yang cukup menyita pikiranku. Masalah yang sebenarnya ga bakal jadi masalah kalo aku ga memikirkannya. Aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk mengusir kegundahan ini. Tiba-tiba aku terfikir, sepertinya udah cukup lama aku ga meminta maaf dari hati terdalam sama orang2 yang sering aku temui. Kenapa aku memusatkan perhatian sama orang2 yang sering ku temui? Karena menurutku merekalah yang paling mungkin menghadapi kesalahan dan kekhilafan ku, bahkan mungkin ku sakiti perasaannya. Memang seingatku aku ga ada masalah sama mereka, tapi tetap aja yang namanya khilaf bisa dilakukan tanpa kita sadari. Lagi pula menurutku minta maaf itu ga musti harus ada masalah dulu kan... Aku pun mulai merangkai kata2 dan mengirim sms itu ke orang2 yang sering kutemui.

Setelah mengirim sms itu, perasaan ku lebih lega. Apalagi ketika menerima balasan dari mereka yang merespon baik permintaan maaf ku itu. Saat itu aku mulai berpikir, terkadang kita pernah merasa sakit hati ketika menerima ucapan atau perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Tapi sadarkah kita, ucapan atau perlakuan tersebut mungkin ga akan kita terima kalau kita ga melakukannya juga pada orang lain. Sering kali kita merasa kesal dengan sikap orang lain pada kita, tanpa pernah mau meng-hisab atau mengintrospeksi segala yang telah kita ucapkan dan lakukan padanya. Memang tangan di atas lebih baik dari pada tangn di bawah. Namun, apakah kita hanya menunggu hingga orang lain memaafkan kita tanpa mau berusaha untuk meminta maaf atas kesalahan kita yang disengaja atau tidak? Mulai sekarang, mari kita lebih melapangkan dada kita untuk mau meminta maaf terlebih dahulu, tanpa memandang waktu untuk melakukannya.

-Sartika Ika S-
Read more...

29 November 2010

Perjalanan yang Mencekam

2 komentar

Hari ini adalah salah satu hari yang cukup membuatku galau, ketar-ketir, deg-degan, dan rasa lainnya yang bercampur menjadi es campur (jadi selera nih). Tapi tetap aja rasanya jauh dari manisnya es campur.

Gini ceritanya.... Siang setelah kuliah usai, aku pergi berjalan kaki di bawah terik matahari menyusuri jalan menuju SMA tercinta. Untuk apa lagi kalo bukan ketemu n sharing sama adik-adik junior yang masih mengunyah bangku sekolahan (pantes,, bangkunya pada sompel). Aku yang sebenarnya hari itu lagi gak mood n pikiran mumet karena "sesuatu" berusaha menyemangati diri biar bisa tampil oke pas ketemu adik-adik nanti. Sampe di sana, cipika cipiki, trus ngobrol-ngobrol ke sana ke mari mulai dari kegiatan terdekat mereka sampe bahas kondisi Indonesia dan Qatar (pembicaraan lintas negara nih....). Akhirnya, setelah tertipu sama jam dinding yang telat hampir setengah jam, kami pun memutuskan untuk pulang jam 5.10 sebelum hape ribut ditelponin ortu.

Kebetulan, salah satu junior itu rumahnya searah denganku. Jadilah kami jalan bareng ke simpang buat nunggu sudek gedek-gedek tercinta. Perlu diketahui, angkot kami ini emang tergolong langka. Dari segi jumlah, bisa diitung pake jari samoe-sampe aku hafal beberapa supirnya. Dari segi body, nih angkot beruntung berada di Indonesia karna kalo di Malaysia ato Singapur, pasti angkot-angkot ini udah diberangus karna udah melewati batas umur ekonomisnya. 5, 10, 15 menit kami berdiri diterpa polusi tapi angkot yg ditunggu ga kunjung tiba. 30 menit menanti Alhamdulillah si angkot muncul juga. Kami langsung naik dengan riang karna akhirnya bisa pulang juga. Sepanjang perjalanan, penumpang angkot yang naik sebelum kami pada ngeluh n ngumpatin su[irnya semua. Aku agak heran juga, nih orang kok pada hebring amat. Emang sih, si supir bawanya rada ga enak gitu. Nge-gas mendadak, trus tiba-tiba nge-rem. Jadi kami di angkot pada maju mundur terus duduknya. Aku yang udah capek ga terlalu peduli dengan hal itu. Yang penting sepat sampe rumah, n silaturahim sama bantal.

Udah setengah perjalanan dilewati, kami ketemu lagi sama lampu merah, kuning, ijo. Sudek pun berhenti. Tiba2 si adik yg duduk di sebelah ku berbisik "kak, dari bawah bangku depan kok keluar api?" Aku berusaha mengamati dan gak lama kemudian keluar percikan api kayak yg dibilang si adik. Weiitss, aku kaget tak terkira. Mana ada anak orang yang pulang sama aku. Kalo terjadi sesuatu kayak di sinetron2 itu gimana? Aku panic! at the angkot. Dengan sigap aku pencet bel yang ada di angkot, maksudnya mau turun n naik angkot lain. Mending ngeluarin duit lebih, dari pada nyawa terancam. Tapi dengan santainya penumpang lain bilang "gak apa-apa dek. Udah dari tadi tu". Ternyata, percikan apinya muncul karna batere aki-nya bergesekan sama bangku angkot (kalo ga salah gitu). Oke lah, alasan yang bisa diterima walopun ga buat hati tenang. Dengan penuh rasa was-was kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan angkot itu. Rumah ortu ku semakin dekat. Si supir yang mulai haus pun mengambil botol minumnya yang dibungkus dengan plastik hitam. Ketika dia menenggak air di botol itu, aku sempat melihat kalo airnya berwarna putih keruh, bukan bening. Aku curiga. Sejak kapan supir angkot minum susu??? Penumpang lain langsung nyeletuk, "ternyata dia minum tuak*, pantes lah kayak gini...". Jrejeeng..... Aku langsung terjekut alisa terkejut. Jadi nih sopir dari tadi mabuk toh... Apa jadinya kalo dia bener-bener udah ga sadar. Bisa-bisa aku n yang lainnya bukan sampe ke rumah masing-masing, tapi malah ke rumah sakit. Aku langsung menambah speed doa n dzikir. Ya Allah, lindungilah... Karna kondisi semakin tak terkendali dan rumahku udah cukup dekat, aku n si adik memutuskan untuk segera turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ini lebih baik dari pada menyerahkan nyawa pada supir angkot.

Hari ini aku mendapat pelajaran penting. Hati-hatilah dalam memilih angkot. Kalo udah menemukan hal yang mencurigakan, lebih baik segera turun dan pindah ke angkot lain. Biarlah berkorban uang, daripada berkorban nyawa.

*Tuak: sejenis wine ala orang batak. Bahasa kerennya dalah khamar

-Sartika Ika S-
Read more...

10 November 2010

Kejadian Demi Kejadian

2 komentar

Dalam minggu ini, entah kenapa para dosen pada semangat semua. Karna semangatnya, tugas yang dikasi ke kami pun jadi bertumpuk-tumpuk. Selasa aja udah diisi sama 2 tugas. Trus Rabu harus ngumpul 3 tugas sekaligus!!! Well, bukan cuma para dosen yang semangat. Kegiatan organisasi juga lagi getol-getolnya menjaring anak-anak kampus diberbagai acara. Alhasil, aku yang adalah salah satu panitia lebih tepatnya koordinator konsumsi harus rela pulang sore tiap hari demi menghadiri syuro' ke syuro'. Gimana enggak, secara acaranya udah tinggal 2 hari lagi alias Jumat-Minggu ini. Fiuhh..... Asli seminggu ini jadi hanro' alias hantu syuro'. Hehheheh.....

Emang untuk aku yang punya badan pas-pasan ini, capek juga rasanya harus memenuhi semua tuntutan peran (kayak artis aja...). Awalnya sempat terbersit juga "bisa gak ya jalanin semua? Apalagi nyelesaikan pe-er". Tapi ternyata semua keraguan itu bisa kujawab dengan tegas. Tidak....!!!! Setelah diselami, diresapi, dan dijalani ternyata semua itu tidak menghalangiku untuk memenuhi tanggung jawab itu. Makin banyak kegiatan n kerjaan, malah membuat kita makin bisa bagi waktu. Jadi tiap hari kerjaanku ngatur schedule harian. Jam segini ke sini, jam segitu ke situ, dst. Malahan ada tuh temanku yang kerjaannya kuliah-rumah aja, tapi tugasnya baru selesai beberapa saat sebelum dikumpul. So, ga aktif organisasi ga jadi jaminan prestasi tinggi kan...

Emang jalan yang harus dilalui itu ga selalu mulus. Sempat juga ada kesalahpahaman sama teman panitia yang lain, urusan yang belum beres menjelang acara, dll. Tapi alhamdulillah Allah Maha Pengasih. Semua urusan dilancarkan. Disaat itu Allah juga memberikan saudari yang baik hati yang mau mendengarkan n menenangkan :D

Dari sekian kejadian minggu ini, banyak hikmah yang bisa diambil. Semuanya buat aku makin yakin sama pertolongan Allah dan janjiNya yang ga akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambaNya.

Tetap Semangat kawan-kawan... Innallaha ma'ana :D

-Sartika Ika S.-
Read more...

20 Oktober 2010

20.10.2010. Apa yang Spesial???

0 komentar
Hari ini ku awali dengan nasi plus sambel teri. Trus pergi ke kampus juga masih naik angkot kayak biasa. Dan lagi-lagi nyampe kampus pak dosen tercinta yang udah dinanti-nanti kemurahannya untuk berbagi ilmu ternyata ga datang. Tapi itu juga biasa. Jadi intinya pagi ini ga beda-beda amat sama pagi-pagi sebelumnya. Tapi kenapa teman2 pada heboh bin hebring pagi ini? Setelah pasang antena tinggi-tinggi, trus agak digeser kiri kanan dikit akhirnya aku dapat beritanya. Jadi mereka tu pada heboh karena hari ini tanggal 20 bulan 10 tahun 2010 alias 20.10.2010. Aku juga baru sadar!

Tanggal ini dianggap keramat sama sebagian mereka karena susunanya yang pas antara tanggal, bulan, n tahunnya. Jadi banyak juga yang manfaatin moment ini buat ngelakuin sesuatu yang spesial supaya diabadikan ditanggal cantik, gitu sih kata-katanya. Oke lah aku terima. Namanya juga masa muda, masa yang berapi-api (tu kata bang haji lho).

Perjalanan berlanjut. Antena masih dipasang tinggi-tinggi buat nangkap sinyal-sinyal mencurigakan. Eh, dapet. Denger-denger ada demonstrasi di berbagai daerah hari ini. Ya ampun, mentang-mentang tanggal cantik jadi maau diabadiin dengan ngadain demo besar-besaran ya bang??? Eitts, ternyata bukan itu. Denger-denger lagi, hari ini bertepatan sama 1 tahun pemerintahan bapak presiden n wakilnya. Haaa, udah setahun ya??? Kayaknya ni negara masih gini-gini aja deh.

Oke lah. Pertama-tama saya ucapkan selamat buat bapak-bapak yang udah 1 tahun duduk-duduk di bangku kekuasaan. Trus nih pak, saya sih cuma mau ingetin aja kalo setahun yang lalu bapak-bapak tu udah bersumpah demi Allah untuk menjalankan tugas lho... Jadi jangan cuma maunya curhat ke masyarakat, tapi justru dengerin dong curahan n jeritan hati masyarakat, trus lakukan perubahan supaya masyarakatnya ga sengsara lagi. Ayo pak, utamakan kepentingan rakyat diatas kepentingan partai & pribadi. Kami doakan semoga pemimpin kami adalah orang-orang yang jujur, berakhlak, dan bertindak cepat & tepat untuk kemajuan bangsa ini. Bersama kita bisa!!!

-Sartika Ika S.-
Read more...

23 September 2010

Manfaatkan Peluang. Langsung Tancaaaap

2 komentar

Innalillahi wainnailayhi roji'un... Sabtu, 18 September 2010 yang lalu Pajak USU a.k.a PAJUS terbakar. Sedikit info buat teman2 di luar Medan, PAJUS adalah pasar (orang Medan nyebut pasar dengan sebutan pajak) atau lebih kerennya pusat perbelanjaan yg terletak di lingkungan USU. Di PAJUS hampir semua kebutuhan tersedia, mulai dari alat tulis dan kantor, flash disk, makanan, minuman, pulsa, cassing, buku, sepatu, tas, aksesoris, sampe pakaian ada di sini. Hrganya juga dijamin murah. Ga heran kalo pelanggannya bukan hanya mahasiswa USU, tapi juga anak sekolah, mahasiswa kampus lain, orang kantor, dan masyarakat umum pada nge-fans sama PAJUS. Sebagai mahasiswa USU, apalagi anak ekonomi yg kampusnya deketan sama PAJUS, cukup bangga juga sama PAJUS yg udah melayani kebutuhan hampir semua masyarakat Medan (lebay ya??).

Anyway, balik ke masalah kebakaran. Dengar2 kabar sih penyebabnya karna genset salah satu pedagang yg meledak. Akhirnya hampir seluruh PAJUS ludes diganyang api n hampir ga ada yg bisa diselamatkan. Semoga Allah memberikan kesabaran dan ganti yg lebih baik buat para pedagang di PAJUS. Amiin...

Terbakarnya PAJUS ini bukan cuma buat sedih para pedagang, tapi juga para konsumen. Banyak orang-orang bingung sekarang. Mau beli kebutuhan kuliah di mana? Di tempat lain mahal. Apalagi buat kantong anak kost.

Ngeliat kondisi ini, aku jadi punya ide. Ahhaaa... kesempatan emas nih. Jadilah aku berpikir untuk jadi PAJUS keliling (cape' dong..). Melihat kebutuhan para mahasiswa akan kebutuhan terhadap alat tulis, menimbang belum adanya penyedia bagi kebutuhan tersebut di kampus tercinta, maka aku memutuskan untuk berbisnis alat tulis.

Percuma dong anak ekonomi kalo ga bisa ngeliat peluang bisnis yang ada. Aku pun mencari tau grosir alat tulis yang murah. Alhamdulillah di dekat kantor kakakku ada grosiran. Dengan modal uang beasiswa, aku pun membeli beberapa jenis pulpen dan kertas binder untuk dijual.

22 September 2010 menjadi salah satu hari yg bersejarah dalam hidupku. Hari itu akupun membawa daganganku ke kampus sambil kuliah. Begitu sampe kelas, dengan gagah perkasa ku keluarkan barang2 itu dan.... seet seet seet... kawan2 pun langsung menyerbunya. Alhamdulillah beberapa pulpen langsung raib dan berubah jadi uang. Ada juga yg pesan barang2 lainnya.

Memang untungnya keciiiiil kali. Tapi entah kenapa rasanya senang aja bisa menghasilkan uang sendiri n bantu meringankan kesulitan orang lain. Memang ini bukan bisnis pertama, tapi tetap aja feel nya beda. Apalagi hari ini. Pas lagi mau foto kopi tugas, tiba2 ada orang di foto kopi yg nanya kertas binder sama kakak penjualnya. Ternyata disitu ga jual kertas binder. Jadilah dengan gentlemen kawan awak bilang sama tu orang yg ternyata dia kenal: "beli sama ika aja...". Dia langsung respon positif, malah minta 2 bungkus. Emang kalo rezeki ga kemana... Selesai dari foto kopi, aku balik ke kelas. Eh... tiba2 cewe tadi datang n mau beli kertasnya lagi. Tpi sayang sejuta sayang, persediaanku abis. Moga aja besok-besok dia mau beli sama aku lagi ya Allah...

Ada beberapa orang yg bilang, "ngapain sih, kan untungnya juga kecil..". Tapi aku ga perduli. Karna yg kucari bukanlah keuntungan (tapi tetep gak mau rugi juga dong..), yang kucari adalah pengalaman, pembelajaran, dan perjalanan hidup. Pengalaman memulai, memajukan, dan mempertahankan bisnis walaupun kecil2an. Pembelajaran dalam mencari pemasok, mempromosikan produk, dan berkomunikasi dengan pembeli. Perjalanan hidup yang nantinya akan kutulis di dalam buku kisah sukses ku kelak. Kesuksesan yg dimulai dari bawah, dari sebuah langkah kecil, dari hasil pemikiran yang matang, dan dari keberanian. Jadi bisa lebih memotivasi orang. Kalo kisah perjuangannya langsung dimulai dari bisnis bermodal besar, orang bakal mikir "ya iyalah dia bisa, modalnya banyak sih. Kalo kita yg kecil ini mana mungkin sukses kayak dia...". Itu sih pemikiran aku aja.

Apapun ending nya nanti, intinya aku mau jadi orang yg berguna, mandiri, tangannya lebih sering di atas, n ga jadi sampah masyarakat yg kehadirannya ga diinginkan siapa pun. Doain ya moga bisnisnya lancar... Rencananya sih mau ekspansi nih. Dari FE merambat ke FK. Mohon doanya ya \^0^/

-Sartika Ika S.-
Read more...

19 September 2010

Sayang Kamu Selalu

4 komentar

Assalamu'alaykum.... Wah, udah lama nih ga nongol-nongol tulisannya. Sekalinya nongol, eh... judulnya norak bin lebay gini. Gapapa deh. Entah kenapa sore ini aku kangen sangat sama saudari-saudariku yang ngegemesin semua. Heheheheh

Kenal sama mereka sih beda-beda. Ada yang sejak SMP kayak Kiki & Nungki. Tapi ada juga yang pas SMA baru ketemunya kayak Husna, Dwieta, Ratna, Eva, Rida, Tika, Tije, n Saidah. Tapi intinya semuanya kucinta. Masing-masing punya karakter yang beda-beda. Tapi alhamdulillah kesamaan aqidah yang menjadi pemersatu kami.

Jadi inget sama Kiki yang sulit untuk nolak bantuin orang lain. Si Nungky yang pintar, kritis, aktif n santun (kok mau ya temenan ma aku yang rada ancur ini???). Husna si anak Bandung yang slalu bisa ngasi solusi dan menenangkan (pa kabar dirimu skarang ukh? Susah amat dihubungi...). Dwieta kawan awak yang lugu n cuek, tapi baik hati dan tidak sombong (rajin nabung juga gak ya?). Ratna yang slalu bisa mencairkan suasana n kreatif. Eva si lugu yang baik hati, rajin bantu ortu, n apa adanya. Rida yang bela-belain pulang cepat dari kampungnya demi halal bi halal sama kami-kami ini (hix hix, saya terharu...), tempat yang enak buat curhat n penuh semangat (ditunggu ya jadi bu dosen n motivator). Tika yang sangat mengikuti sunnah Rasul dengan menjual macam-macam produk mulai dari jilbab, rok, sampe kue lebaran. Tije yang pembawaannya slalu tenang. Saidah si kakak gahul yang selalu enerjik, penuh semangat, n ga gampang nyerah.

Mungkin cuma beberapa dari mereka yang sering kujumpai karena masih satu kota. Tapi rasa persaudaraan tak kenal yang namanya jarak dan waktu. Walau kita dipisahkan saudera yang luas, walau cuma bisa ketemu sekali setahun... Tapi pertalian hati yang sudah terjalin tak mudah untuk diputuskan. Ukhuwah yang erat membuat hati selalu dekat. Semoga jalinan ukhuwah ini tetap dapat kita jaga dan semoga mendapat ridho Allah... Semangat raih cita-cita!!!

-Sartika Ika S.-
Read more...

08 September 2010

Menyambut Idul Fitri

2 komentar

Hari-hari menjelang idul fitri, biasanya yang paling sibuk adalah para muslimah. Mulai dari mempersiapakan interior rumah yang ingin tampil beda di saat hari raya, mempersiapakan kue-kue kecil, merancang busana hari raya, bagi yang mudik telah bersiap mengepak dan mempersiapkan segala sesuatu yang harus dibawa, pokoknya hiruk pikuk urusan duniawi mengisi hari-hari menjelang lebaran.

Apa sebenarnya makna iedul fitri bagi seorang muslim atau muslimah?

Iedul fitri bermakna sebagai hari kemenangan bagi yang puasanya diterima oleh Allah karena telah mampu melawan hawa nafsu selama sebulan penuh dan telah menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas hanya karena Allah ta’ala. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa malam Idul Fitri disebut malam pemberian hadiah, pada malam itu Allah berseru kepada malaikatnya: "Aku bersaksi wahai malaikatku bahwa Aku telah memberikan pahala puasa hamba-hambaKu, pahala sholat-sholat mereka. Aku limpahkan kepada mereka ridho dan
ampunanKu.

Yang menjadi pertanyaan, apakah puasa kita telah diterima oleh Allah SWT? Jawabnya wallahu’alam. Tapi setidaknya, menurut para ulama ada indikasi-indikasi yang menjadi tolok ukur apakah puasa seseorang diterima atau tidak. Indikasi yang pertama adalah ketika tingkat kualitas kesholehan seseorang bertambah baik, kedua, jiwanya selalu diliputi oleh keimanan dan yang ketiga, keterikatannya terhadap hukum syara’ makin meningkat baik secara individu maupun kehidupan sosialnya.

Iedul fitri juga bermakna sebagai hari kemenangan sejati bagi yang benar-benar melakukan penghayatan dan pengamalan selama bulan romadhon. Sehingga menghantarkan kepada pribadi yang fitri, kembali kepada fitrahnya yang bersih, suci bagai kain putih yang belum terkotori oleh noda.

Meskipun pada detik-detik menjelang iedul fitri ini, para muslimah atau lebih tepatnya para istri atau ibu-ibu disibukkan dengan urusan-urusan rumah tangga yang bersifat duniawi, tapi bukan berarti melalaikan urusan ukhrowinya. Justru disinilah tantangannya.
Muslimah ditantang untuk mampu mengatur waktunya denganbaik sehingga antara kesibukan rumah tangga dan ibadah kepada Allah tetap berjalan seimbang. Jangan sampai momen baik ini terlewatkan tanpa melakukkan aktivitas yang berarti di hadapan AllahSWT.

Sempatkan untuk mengevaluasi diri (mutaba’ah) dan mengkalkulasi keburukan diri sendiri dan memikirkan seberapa banyak kebaikan-kebaikan yang belum dilakukan (muhasabah).
Jadikan pula iedul fitri sebagai ajang tasyakur, mengasah kepekaan sosial dan refleksi diri untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

Di negeri ini, ada tradisi silaturahmi setiap perayaan hari raya iedul fitri. Sebuah tradisi yang layak untuk dilestarikan. Saling mengunjungi, saling bermaaf-maafan dengan sanak saudara, teman sejawat, tetangga, mitra kerja, atasan dan bawahan. Selain menggugurkan dosa-dosa tentunya tradisi ini akan menyambungkan kembali tali silaturahmi, mempererat persaudaraan dan semakin meningkatkan ukhuwah islamiyah.

Mudah-mudahan iedul fitri kali ini, menjadikan kita hamba yang lebih baik, mempunyai semangat baru dan lahir sebagai sosok baru seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu yang penuh dengan keindahan taqwa kepada Allah SWT. Amin ya robbal ‘alamin. Wallahu’alam…***


Penulis bernama Nani Agus, seorang ibu rumah tangga dengan dua putri. Pemerhati perkembangan Islam baik local dan manca Negara serta aktif di berbagai kegiatan Islam.


http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/menyambut-idul-fitri.htm
Read more...